Home / Info Obat / Kisah Perjalanan Obat dalam Tubuh Hingga Berkhasiat Sembuhkan Penyakit
Perjalanan obat dalam tubuh dari berbagai rute pemberian obat (publications.nigms.nih.gov)
Perjalanan obat dalam tubuh dari berbagai rute pemberian obat (publications.nigms.nih.gov)

Kisah Perjalanan Obat dalam Tubuh Hingga Berkhasiat Sembuhkan Penyakit

GudangIlmuFarmasi – Ketika kita sakit, maka obat akan menjadi penawar penyakitnya. Lalu bagaimana obat bisa menyembuhkan penyakitnya? Tulisan kali ini akan mengulas dengan singkat Kisah Perjalanan Obat dalam Tubuh Hingga Berkhasiat Sembuhkan Penyakit yang disadur dari situs resmi “National Institute of General Medical Sciences“, USA.

Bagaimana parasetamol tablet bisa meredakan sakit kepala? Apa yang terjadi setelah menggosok beberapa olesan krim hidrokortison di bagian ruam kulit anda? Bagaimana obat dekongestan seperti pseudoefedrin mengeringkan hidung Anda ketika terkena flu?

Perjalanan obat dalam tubuh dari berbagai rute pemberian obat (publications.nigms.nih.gov)
Perjalanan obat dalam tubuh dari berbagai rute pemberian obat (publications.nigms.nih.gov)

Obat akan menemukan jalan menuju  “site of action” tempat mereka seharusnya berada di dalam tubuh, ratusan peristiwa akan terjadi di sepanjang jalannya. Seketika sampai ditempat yang dituju akan menemuka reseptor senyawa obatnya dan obat-obatan akan bekerja, baik menutupi gejala, seperti hidung tersumbat, atau memperbaiki masalah, seperti infeksi bakteri.

rute-kulit
Obat masuk melalui lapisan kulit melalui metode intramuskular, subkutan, dan pengiriman transdermal. (publications.nigms.nih.gov)

Absorbsi, Distribusi, Metabolisme, dan Eksresi (ADME)

Para ahli telah memberikan nama untuk empat tahap dasar perjalanan obat dalam tubuh: penyerapan/absorbsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi. Seluruh proses ini disingkat ADME. Ahli farmasi lainnya juga membagi kedalam 4 fase yakni farmasetika (pra-formulasi dan formulasi obat), biofarmasetika (ketika obat masuk dalam tubuh hingga obat terlepas dari pembawanya hingga akan diabsorbsi), farmakokinetika (Obat diabsorbsi ke dalam darah, yang akan segera didistribusikan melalui tiap-tiap jaringan dalam tubuh), farmakodinamika (interaksi obat-reseptor obat, fase metabolisme dan eksresi obat).

Absorbsi

Tahap pertama adalah penyerapan. Obat-obatan bisa masuk ke dalam tubuh dalam berbagai cara, dan mereka diserap ketika mereka melakukan perjalanan dari berbagai rute pemberian/administrasi ke dalam sirkulasi tubuh.

Beberapa cara yang paling umums seperti melalui mulut/oral (menelan tablet aspirin), intramuskular (mendapatkan vaksinasi flu dalam otot lengan), subkutan (suntik insulin tepat di bawah kulit), intravena (menerima kemoterapi melalui pembuluh darah), atau transdermal (memakai patch kulit).

Baca :  Mengenal Antibiotik dan Resistensi Antibiotik

Obat menghadapi rintangan terbesarnya selama penyerapan. Ketika obat diminum, maka akan diantarkan melalui saluran pencernaan dan diabsorbsi melalui pembuluh darah khusus menuju ke hati, di mana sejumlah besar obat dapat dihancurkan oleh enzim metabolik pada apa yang disebut “lintas pertama obat/first fast effect.” Rute lain dari pemberian obat yang melewati hati dengan memasuki aliran darah secara langsung atau melalui kulit atau paru-paru.

Distribusi

Setelah obat diserap, tahap berikutnya adalah distribusi. Pada umumnya aliran darah akan membawa obat-obatan ke seluruh tubuh. Selama langkah ini, efek samping dapat terjadi ketika obat memiliki efek dalam organ selain organ target. Untuk pereda nyeri, organ sasaran mungkin otot sakit di kaki; iritasi lambung bisa menjadi efek samping. Banyak faktor yang mempengaruhi distribusi, seperti kehadiran molekul protein dan lemak dalam darah yang dapat menempatkan molekul obat terikat untuk membawa ketempat yang dituju.

Obat yang ditargetkan menuju sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang) akan menghadapi rintangan besar yakni barikade yang hampir tak tertembus disebut penghalang darah-otak/blood brain barrier. Blokade ini dibangun khusus berbentuk kapiler berlapis yang bersama-sama untuk melindungi otak dari zat-zat yang berbahaya seperti racun atau virus. Namun ahli farmasi telah merancang berbagai cara untuk menyelinap beberapa obat melewati penghalang ini.

Metabolisme

Setelah obat telah didistribusikan ke seluruh tubuh dan telah melakukan tugasnya, obat akan pecah, atau dimetabolisme. Penguraian dari molekul obat biasanya melibatkan dua langkah yang terjadi sebagian besar di pabrik pengolahan kimia tubuh, yakni hati.

Hati adalah organ penting yang bekerja terus menerus. Semua yang memasuki aliran darah baik itu melalui jalur oral, injeksi, inhalasi, kulit atau yang diproduksi oleh tubuh secara alami akan dimetabolisme di hati.

Baca :  Sejarah dan Pentingnya Obat Monoklonal Antibodi Untuk Tingkatkan Kekebalan Tubuh

Proses biotransformasi yang terjadi di hati dilakukan oleh protein dan enzim. Setiap satu sel manusia memiliki berbagai enzim, yang diambil dari ratusan ribu repertoar. Masing-masing enzim mengkhususkan diri dalam pekerjaan tertentu. Beberapa mampu memecah molekul obat, sementara yang lain menghubungkan molekul kecil menjadi rantai panjang. Reaksi dengan obat membuat suatu substansi yang lebih mudah untuk dibuang melalui urin. Tidak heran minum obat tertentu maka warna urin akan berubah.

Eksresi

Banyak produk dari hasil pemecahan enzimatik yang biasa disebut metabolit, biasanya merupakan senyawa yang kurang aktif dari molekul asli obatnya. Untuk alasan ini, para ilmuwan menyebut hati sebagai organ “detoksifikasi”.

Kadang-kadang metabolit obat yang dihasilkan dapat memiliki kegiatan kimia mereka sendiri, bahkan memiliki kekuatan serupa dari obat aslinya. Ketika meresepkan obat-obatan tertentu, dokter harus memperhitungkan efek samping ini.

Setelah enzim hati menyelesaikan pekerjaannya dalam membuat metabolit obat, selanjutnya akan mengalami tahap akhir waktu dalam tubuh, yakni ekskresi dimana akan keluar melalui urine atau feses, terkadang melalui keringat.

Sumber : https://publications.nigms.nih.gov/medbydesign/chapter1.html#c1

About Nasrul Wathoni

Nasrul Wathoni, Ph.D., Apt. Pada tahun 2004 lulus sebagai Sarjana Farmasi dari Universitas Padjadjaran. Gelar profesi apoteker didapat dari Universitas Padjadjaran dan Master Farmasetika dari Institut Teknologi Bandung. Gelar Ph.D. di bidang Farmasetika diperoleh dari Kumamoto University pada tahun 2017. Saat ini bekerja sebagai dosen dan peneliti di Departemen Farmasetika, Farmasi Unpad.

Check Also

Mengenal Penemu Vaksin Polio, Jonas Edward Salk

GudangIlmuFarmasi – Jonas Edward Salk lahir pada bulan Oktober 1914, di Kota New York. Anak …