Home / Mahasiswa Apt / Blue Print Ujian Kompetensi Apoteker Indonesia Metode CBT dan OSCE
standar kompetensi apoteker indonesia

Blue Print Ujian Kompetensi Apoteker Indonesia Metode CBT dan OSCE

GudangIlmuFarmasi – Uji Kompetensi Apoteker Indonesia (UKAI) merupakan penerapan sistem uji kompetensi secara nasional pada tahap akhir pendidikan apoteker untuk mengukur pencapaian kompetensi calon lulusan dalam ranah pengetahuan (kognitif), ketrampilan (psikomotor), serta sikap dan perilaku (afektif).

TUJUAN UKAI

Tujuan penyelenggaraan UKAI adalah untuk meminimalkan variasi pencapaian mutu kompetensi lulusan agar memenuhi standar kompetensi kerja dan untuk memperoleh sertifikat kompetensi apoteker Indonesia
sesuai dengan peraturan perundang-undangan antara lain:

  1. Undang-Undang Republik Indonesia nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
  2. Undang-Undang Republik Indonesia nomor 36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan
  3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian
  4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 889 tahun 2011 tentang Registrasi, Izin Praktek, dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian
  5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 31 tahun 2016 tentang Perubahan Peraturan Menteri Kesehatan nomor 889 tahun 2011 tentang Registrasi, Izin Praktek, dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian
  6. Peraturan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia nomor 16 tahun 2016 tentang Tatacara Pelaksanaan Uji Kompetensi Mahasiswa Bidang Kesehatan

Sebagai alat ukur pencapaian kompetensi, penyelenggaraan UKAI sebagai uji kompetensi nasional
merupakan bagian integral sekaligus komplementer terhadap sistem ujian di institusi.

METODE UKAI

Metode dan sistem ujian dikembangkan secara sistematis untuk memenuhi prinsip-prinsip dasar asesmen yaitu valid, objective, reliable, feasible, dan memberikan dampak pada pembelajaran (impact on learning).

UKAI diharapkan mendorong tumbuhnya kesadaran mawas diri serta upaya pengembangan diri apoteker secara berkelanjutan (life-long learning).

Metode uji yang dikembangkan meliputi metode MCQ’s (Cognitive Based-Test) yang dilaksanakan
dalam bentuk Computer Based-Test (CBT) dan metode Objective Structure Clinical Examination (OSCE).

Baca :  Makna Mendalam dari Sumpah Apoteker yang Bukan Hanya Asal Ucap

Materi uji disusun mengacu pada Standar Kompetensi Apoteker Indonesia berdasarkan Cetak Biru
(Blueprint) yang menggambarkan prioritas kompetensi yang diujikan.

Blueprint uji kompetensi berfungsi
sebagai panduan bagi:

  1. Penulis soal (item writer) dalam menulis soal,
  2. Penelaah soal (item reviewer) dalam menelaah item soal,
  3. Peserta ujian dalam mempersiapkan diri; dan
  4. Institusi pendidikan untuk mengukur “outcome”.

BLUE PRINT UKAI OSCE

Blueprint OSCE berisi penjelasan tentang kisi-kisi soal yang diujikan dalam Uji Kompetensi Apoteker Indonesia (UKAI), menggambarkan kemampuan yang diuji secara proporsional.

Blueprint UKAI-OSCE disusun mengacu pada Standar Kompetensi Apoteker Indonesia (SKAI) dengan memperhatikan keterwakilan praktik kefarmasian dan ketrampilan yang diujikan.

Penerapan metode MCQ’s (CBT) dan
OSCE dalam pelaksanaan UKAI diharapkan dapat menilai pencapaian kompetensi calon lulusan sesuai
Standar Kompetensi Apoteker Indonesia.

Berdasarkan kompetensi fokus ketrampilan yang diujikan adalah kemampuan apoteker (kandidat)
dalam menyelesaikan masalah-masalah praktik kefarmasian.

Kompetensi spesifik tersebut mencakup 7 (tujuh) aspek yaitu:
1. Pengumpulan data dan informasi
2. Penetapan masalah
3. Penyelesaian masalah
4. Monitoring dan evaluasi
5. Pencatatan dan pelaporan
6. Komunikasi efektif
7. Sikap dan perilaku professional

Berdasarkan praktik kefarmasian ketrampilan yang diujikan terbagi dalam 3 (tiga) area yaitu:
1. Pembuatan sediaan farmasi, mencakup: (a) Perancangan, (b) Produksi, (c) QC/QA;
2. Distribusi sediaan farmasi,mencakup: (a) Perencanaan, pengadaan, penerimaan, (b) Penyimpanan,
penyaluran, dan pemusnahan;
3. Pelayanan sediaan farmasi, mencakup: (a) Pelayanan obat tanpa resep (swamedikasi), (b) Skrining
resep, analisis DRP/DTP, (c) Compounding sediaan farmasi (non-steril, steril), (d) Dispensing (KIE),
Pemantauan terapi/Monitoring efek samping obat.

Penerapan blueprint OSCE dalam perancangan paket soal ujian terdiri dari 9 (sembilan) soal OSCE pada 9 stasion dengan sebaran: 3 (tiga) stasion pembuatan, 2 (dua) stasion distribusi, dan 4 (empat) stasion pelayanan.

Baca :  10 Keahlian yang Tidak Dipelajari di Kuliah Farmasi dan Apoteker

Total stasion 10 (dengan 1 stasion istirahat), waktu efektif pada tiap stasion 8 menit.

Rancangan selengkapnya dapat dilihat dalam matriks blueprint OSCE berikut:

BLUEPRINT UKAI CBT

Berikut adalah paparan mengenai blueprint UKAI CBT

About Nasrul Wathoni

Nasrul Wathoni, Ph.D., Apt. Pada tahun 2004 lulus sebagai Sarjana Farmasi dari Universitas Padjadjaran. Gelar profesi apoteker didapat dari Universitas Padjadjaran dan Master Farmasetika dari Institut Teknologi Bandung. Gelar Ph.D. di bidang Farmasetika diperoleh dari Kumamoto University pada tahun 2017. Saat ini bekerja sebagai dosen dan peneliti di Departemen Farmasetika, Farmasi Unpad.

Check Also

5 Perguruan Tinggi Farmasi dengan Lulusan Apoteker Terbanyak di Indonesia

GudangIlmuFarmasi – Melalui situs resmi Komite Farmasi Nasional (KFN) merilis secara real time  berapa jumlah …