Home / Mahasiswa S1 / Hal Penting yang Harus Diperhatikan untuk Obat Berbentuk Emulsi
sediaan emulsi

Hal Penting yang Harus Diperhatikan untuk Obat Berbentuk Emulsi

GudangIlmuFarmasi – Menurut FI Edisi IV, emulsi adalah sistem dua fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil. Stabilitas emulsi dapat dipertahankan dengan penambahan zat yang ketiga yang disebut dengan emulgator (emulsifying agent). Beberapa sediaan emulsi yang beredar di pasaran seperti Curvit, Curcuma Plus dan Scott’s Emultion.

Kenapa harus ditambahkan Emulgator ?

Emulsi merupakan suatu sistem yang tidak stabil, sehinggkan dibutuhkan zat pengemulsi atau emulgator untuk menstabilkannya sehingga antara zat yang terdispersi dengan pendispersinnya tidak akan pecah atau keduannya tidak akan terpisah. Emulgator dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti emulgator alam dari tumbuh-tumbuhan (Gom Arab, Tragakan, Agar, Chondrus), dari hewan (Kuning Telur, dan Adeps lanae), dari tanah mineral (Veegum dan Bentonit) dan emulgator buatan (sabun, tween 20, span 20, dan Benzalkonium klorid)

Apa saja komponen dasar dari Emulsi ?

Komponen dari emulsi dapat digolongkan menjadi 2 macam yaitu :

Komponen Dasar

Adalah bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat dalam emulsi. Terdiri atas :

Fase dispers/ fase internal / fase discontinue, Yaitu zat cair yang terbagi-bagi menjadoi butiran kecil kedalam zat cair lain.
Fase continue / fase external / fase luar
Yaitu zat cair dalam emulsi yang berfungsi sebagai bahan dasar (pendukung) dari emulsi tersebut.

Baca :  Prinsip Bacterial Endotoxin Test (BET) Untuk Mendeteksi Pirogen dalam Produk Farmasi

Emulgator

Adalah bagian dari emulsi yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi.

Komponen Tambahan

Merupakan bahan tambahan yang sering ditambahkan pada emulsi untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Misalnya corrigen saporis, corrigen odoris, corrigen colouris, preservative (pengawet) dan anti oksidan.

Ada berapa tipe emulsi ?

Tipe emulsi ada dua yaitu tipe M/A atau minya dalam air contohnya susu dan tipe A/M atau air dalam minyak contohnya Margarin

Tujuan Pembuatan Emulsi ?

Tujuan pembuatan emulsi yaitu menutupi rasa yang tidak enak pada obat, memudahkan proses pencernaan, dan memudahkan dalam pemakaian.

Bagaimana Tegangan Permukaan mempengaruhi Emulsi ?

Molekul memiliki daya tarik menarik antara molekul yang sejenis yang disebut dengan daya kohesi. Selain itu molekul juga memiliki daya tarik menarik antara molekul yang tidak sejenis yang disebut dengan daya adhesi. Daya kohesi suatu zat selalu sama, sehingga pada permukaan suatu zat cair akan terjadi perbedaan tegangan karena tidak adanya keseimbangan daya kohesi. Tegangan yang terjadi pada permukaan tersebut dinamakan tegangan permukaan.

Dengan cara yang sama dapat dijelaskan terjadinya perbedaan tegangan bidang batas dua cairan yang tidak dapat bercampur. Tegangan yang terjadi antara dua cairan tersebut dinamakan tegangan bidang batas.
Semakin tinggi perbedaan tegangan yang terjadi pada bidang mengakibatkan antara kedua zat cair itu semakin susah untuk bercampur.

Didalam teori ini dikatakan bahwa penambahan emulgator akan menurunkan dan menghilangkan tegangan permukaan yang terjadi pada bidang batas sehingga antara kedua zat cair tersebut akan mudah bercampur.
Tegangan antar muka adalah gaya persatuan panjang yang terdapat pada antarmuka dua fase cair yang tidak bercampur.

Dalam emulsi tegangan antar muka mempengaruhi terjadinya emulsi, semakin kecil tegangan antar muka semakin besar emulsi itu terjadi.

Baca :  Kisah Perjalanan Obat Bereaksi dalam Tubuh Bayi dan Anak-Anak (Bagian 2)

Faktor-faktor apa saja yang harus diperhatikan ?

Suhu

Tegangan permukaan dan kebanyakan cairan turun hampir secara linear dengan naiknya temperatur, yaitu dengan naiknya energi kinetik dari molekul tersebut.

Zat terlarut

Tegangan permukan dipengaruhi oleh adanya zat terlarut dalam suatu cairan. Penambahan zat terlarut akan meningkatkan viskositas larutan, sehingga tegangan permukaan akan bertambah besar.

Surfaktan

Surfaktan adalah suatu zat yang bersifat aktif permukaan yang dapat menurunkan tegangan antarmuka (interfacial tension, IFT) minyak-air.

Jenis Cairan

Pada umumnya cairan yang memiliki gaya tarik antara molekul besar, seperti air, maka tegangan permukaannya juga besar. Sebaliknya pada cairan seperti bensin karena gaya tarik antara molekulnya kecil, maka tegangan permukaannya juga kecil.

Konsentrasi zat terlarut

Konsentrasi zat terlarut suatu larutan biner mempunyai pengaruh terhadap sifat-sifat larutan termasuk tegangan muka dan adsorbsi pada permukaan larutan. Zat terlarut yang ditambahkan kedalam larutan akan menurunkan tegangan muka, karena mempunyai konsentrasi dipermukaan yang lebih besar daripada didalam larutan begitupun sebaliknya.

Bagaimana peran seorang farmasis terhadap stabilitas suatu sediaan ?

Peranan ahli farmasi terhadap stabilitas suatu sediaan obat sangatlah penting, baik obat-obatan yang bentuk padat hingga sediaan yang berbentuk cair. Dilihat dari tingkat ketidakstabilan senyawa obat, sediaan cair merupakan sediaan yang cenderung tidak stabil dan lebih mudah mengalami ketidakstabilan fisik maupun kimia. Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat, terdipersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok.

Dalam pembuatan suatu emulsi, pemilihan suatu emulgator merupakan faktor yang penting untuk dipertimbangkan oleh seorang farmasis karena mutu dan kestabilan suatu emulsi banyak dipengaruhi oleh emulgator yang digunakan. Salah satu emulgator yang banyak digunakan adalah zat aktif permukaan atau surfaktan. Mekanisme kerja emulgator ini adalah menurunkan tegangan antarmuka air dan minyak serta membentuk lapisan film pada permukaan fase terdispersi.

Baca :  Bagaimanakah Perjalanan Obat Dalam Tubuh Bayi dan Anak-Anak? (Bagian 1)

Bagaimana cara membedakan sediaan yang mengalami kerusakan dan sediaan yang stabil ?

Untuk mengetahui sediaan yang mengalami kerusakan maupun sediaan yang stabil pada umumnya dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik secara pengujian tertentu ataupun pengamatan secara visual. Kerusakan pada sediaan emulsi biasanya ditandai dengan terbentuknya flokulasi, creaming, koalesen, dan demulsifikasi. Untuk sediaan yang stabil tidak terjadi perubahan.

Saran farmasis untuk konsumen/pasien ?

Disarankan untuk para konsumen untuk memperhatikan cara penggunaan dan penyimpanan obat. Untuk sediaan emulsi dilakukan pengocokan terlebih dahulu untuk menjamin fase dalam yang merata dalam pembawa. Untuk penyimpanan sediaan emulsi kecuali dinyatakan lain, di simpan didalam wadah tertutup rapat, di tempat sejuk dalam botol atau pot sesuai dengan viskositas emulsi. Sebelum mengkonsumsi obat, pasien harus melihat kondisi obat terlebih dahulu dengan melakukan pengecekan secara visual dan memperhatikan tanggal kadaluarsa.

Referensi :

Ansel, H.C. 2005. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, penerjemah Farida Ibrahim. Pernebit : UI. Jakarta.

Dirjen POM, (1995), Farmakope Indonesia Edisi IV, Departemen kesehatan RI: Jakarta

Lachman Leon, 2007. Teori dan Praktek Farmasi Industri, Edisi Ketiga. Penerbit Universitas Indonesia Press : Jakarta.
Martin, A. 2008.Farmasi Fisika, Buku I. UI Press : Jakarta
Sinko, P. 2011. Farmasi Fisika, Buku II. UI Press : Jakarta
Sri Hidayah, 2011. Pengaruh Rasio mol, Suhu dan lama reaksi terhadap tegangan permukaan dan stabilitas emulsi metal ester sulfonat dari CPO (The effect of Mol ratio, temperature and reaction time on surface tension and stability of metal ester sulfonat emulsion from CPO). Universitas Lampung; Bandar Lampung

Faridha, Y., et al. 2015. Formulasi dan Uji Stabilitas Fisik Krim Susu Kuda Sumbawa dengan Emulgator Nonionik dan Ionik. Universitas Islam Negeri Alauddin; Makassar

Penulis : Ayudhiah Islami, Program Magister Farmasi, Konsentrasi Farmasetika dan Teknologi Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

About Nasrul Wathoni

Nasrul Wathoni, Ph.D., Apt. Pada tahun 2004 lulus sebagai Sarjana Farmasi dari Universitas Padjadjaran. Gelar profesi apoteker didapat dari Universitas Padjadjaran dan Master Farmasetika dari Institut Teknologi Bandung. Gelar Ph.D. di bidang Farmasetika diperoleh dari Kumamoto University pada tahun 2017. Saat ini bekerja sebagai dosen dan peneliti di Departemen Farmasetika, Farmasi Unpad.

Check Also

Mengenal Penemu Vaksin Polio, Jonas Edward Salk

GudangIlmuFarmasi – Jonas Edward Salk lahir pada bulan Oktober 1914, di Kota New York. Anak …